<p>Pada tahun 2021 prevalensi diabetes di Indonesia adalah sekitar 19,5 juta dan diperkirakan akan meningkat menjadi 28,6 juta pada tahun 2045. Penyakit jantung dan ginjal merupakan komorbid yang umum dimiliki oleh pasien diabetes mellitus tipe 2 karena jantung, ginjal dan organ metabolic bekerja saling berkaitan. Berdasarkan suatu penelitian, pasien diabetes mellitus tipe 2 lima kali lebih berisiko mengalami gagal jantung. Kurangnya optimalisasi pengobatan dini dapat meningkatkan risiko kematian akibat kardiovaskular dan/atau rawat inap karena gagal jantung, 5 dari 10 pasien akan meninggal dalam waktu 5 tahun setelah diagnosis</p><p>Walaupun didukung oleh berkembang pesatnya tatalaksana terkini HFrEF, namun angka perawatan RS dan kematian karena HF masih cukup tinggi. Inersia klinis sering dikorelasikan sebagai salah satu faktor penyebab dari tingginya angka perawatan RS dan kematian karena HF tersebut. Untuk itu diperlukannya pendidikan berkelanjutan bagi para dokter penyakit jantung dan pembuluh darah dan para dokter yang menangani gagal jantung pada fasilitas primer untuk terus mengikuti perkembangan terapi HF terkini sehingga dapat memberikan terapi yang berfokus untuk memaksimalkan pencapaian target terapi gagal jantung bagi pasien.</p><p>Berdasarkan pemaparan diatas, Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan bekerja sama dengan AstraZeneca untuk menyelenggarakan Simposium <strong>“ Cardio Renal Metabolik ”</strong> guna meningkatkan pengetahuan tentang gagal jantung, komplikasinya serta penatalaksanaannya. Kiranya kegiatan ini dapat menjadi bekal para Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah dalam memberikan pelayanan yang optimal dan mengobati pasien dengan gagal jantung.</p>