Pelatihan Teknis Penanggulangan Stroke Bagi Dokter dan Perawat di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Angkatan 1
Classical Event Selesai BERBAYAR

Pelatihan Teknis Penanggulangan Stroke Bagi Dokter dan Perawat di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Angkatan 1

Stroke adalah penyebab utama disabilitas dan kematian di dunia. Selama beberapa dekade terakhir, prevalensi stroke di Indonesia telah meningkat seiring pertambahan umur rata-rata populasi serta perubahan gaya hidup yang meningkatkan faktor...

Event Brief

Pendaftaran

31 Agt 2025 - 20 Sep 2025

Pelaksanaan

15 Sep 2025 - 20 Sep 2025

Target Profesi

Semua Profesi Nakes

Program Pembelajaran

Pelatihan

Level Pembelajaran

Pemula, Menengah

Pelatihan Teknis Penanggulangan Stroke Bagi Dokter dan Perawat di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Angkatan 1
Event Selesai
Awal Pendaftaran

31 Aug 2025 17:00

Akhir Pendaftaran

20 Sep 2025 16:59

Mulai Event

15 Sep 2025 08:00

Selesai Event

20 Sep 2025 23:59

Format

Classical

Target Profesi

Semua Profesi Nakes

Program Pembelajaran

Pelatihan

Cakupan & Mekanisme

|

Metode Pembelajaran

Classical

Level Pembelajaran

Pemula, Menengah

Biaya

BERBAYAR

<p>Stroke adalah penyebab utama disabilitas dan kematian di dunia. Selama beberapa dekade terakhir, prevalensi stroke di Indonesia telah meningkat seiring pertambahan umur rata-rata populasi serta perubahan gaya hidup yang meningkatkan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, obesitas, kurangnya aktivitas fisik, dan merokok. Data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) tahun 2021 menunjukkan stroke sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi stroke di Indonesia meningkat sebanyak 56% dari 7 per 1000 penduduk pada tahun 2013, menjadi 10,9 per 1000 penduduk pada tahun 2018. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia 2023, stroke menjadi penyakit tidak menular penyebab 20,2% disabilitas di Indonesia. Berdasarkan data JKN, kasus stroke meningkat dari 2,54 juta kasus pada tahun 2022 menjadi 3,4 juta kasus pada tahun 2023. Data BPJS Kesehatan menunjukkan beban pembiayaan untuk penyakit stroke mencapai 3,23 triliun rupiah pada tahun 2022, meningkat 69,1% dibanding tahun 2021 dengan beban pembiayaan sebesar 1,91 triliun rupiah. Beban pembiayaan stroke meningkat menjadi 5,2 triliun rupiah pada tahun 2023 dan merupakan jumlah pembiayaan penyakit katastropik tertinggi ketiga, setelah penyakit jantung dan kanker. Tingginya angka kesakitan, disabilitas, dan kematian akibat stroke menjadi tantangan dalam pembangunan kesehatan, karena berdampak pada menurunnya produktivitas penduduk Indonesia. Disabilitas yang menetap atau risiko serangan stroke berulang mengakibatkan biaya pemeliharaan kesehatan yang besar serta memberikan beban psikologis dan sosial. Beberapa penelitian yang dilakukan di negara berkembang, menitikberatkan pada upaya pencegahan stroke pada pengendalian perilaku yang berisiko (seperti diet, aktifitas fisik, obesitas) dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan stroke, melakukan skrining terhadap masyarakat berisiko tinggi dan manajemen pengobatan arteriosklerosis yang dapat menurunkan risiko sebesar 80% dengan upaya pengendalian faktor risiko stroke pada individu dan menurunkan kejadian stroke sebesar 50% (Pemila, 2020). Selain permasalahan faktor risiko, pengenalan stroke sendiri belum diketahui masyarakat secara menyeluruh. Hal ini terlihat dari rendahnya pengetahuan masyarakat tentang gejala awal stroke, sehingga terjadi keterlambatan membawa pasien ke fasyankes pada saat serangan akut yang berakibat pada terlambatnya penanganan yang tepat dan adekuat. Kesadaran dan peran aktif dari keluarga serta lingkungan sekitar dalam mengenal faktor risiko, tanda dan gejala stroke, perawatan serta rehabilitasi penderita stroke dapat membantu deteksi dini, pemulihan dan pemberdayaan kembali individu paska stroke untuk meningkatkan kualitas hidup dan mencegah terjadinya serangan berulang. Pencegahan dan penanggulangan stroke di masyarakat perlu ditingkatkan dan dilakukan secara terintegrasi antara tenaga kesehatan dengan keluarga atau masyarakat. Berdasarkan uraian diatas maka Kementerian Kesehatan memandang perlu melakukan penguatan kapasitas petugas kesehatan di layanan primer dalam penanggulangan stroke di FKTP melalui penyelenggaraan Pelatihan Teknis Penanggulangan Stroke di FKTP. Dengan pelatihan diharapkan tenaga kesehatan di Puskesmas/ FKTP dapat mengimplementasikan penanggulangan stroke dengan tepat sebagai upaya penanggulanganstroke di Indonesia. Sehubungan dengan hal tersebut diatas penyelenggaraan pelatihan Teknis Penanggulangan Stroke di FKTP harus terstandar untuk menghasilkan kompetensi yang sama bagi alumni pelatihan tersebut. Untuk itu disusunlah kurikulum pelatihan Teknis Penanggulangan Stroke di FKTP yang akan menjadi acuan penyelenggara pelatihan dalam melaksanakan pelatihan tersebut.&nbsp;</p>