WORLD GLAUCOMA WEEK 2026 Angkatan 1
Online Event Selesai BERBAYAR

WORLD GLAUCOMA WEEK 2026 Angkatan 1

Glaukoma merupakan penyebab kebutaan nomor dua di negara berkembang setelah katarak, dan secara global menduduki posisi yang sama. Kebutaan akibat glaukoma bersifat ireversibel, karena menyebabkan kerusakan permanen pada papil nervus optik...

Event Brief

Pendaftaran

28 Feb 2026 - 27 Mar 2026

Pelaksanaan

28 Mar 2026 09:00

Target Profesi

Dokter, Dokter Spesialis Mata

Program Pembelajaran

Pelatihan

Level Pembelajaran

Menengah

WORLD GLAUCOMA WEEK 2026 Angkatan 1
Event Selesai
Awal Pendaftaran

28 Feb 2026 17:00

Akhir Pendaftaran

27 Mar 2026 16:59

Mulai Event

28 Mar 2026 09:00

Selesai Event

28 Mar 2026 23:59

Format

Online

Target Profesi

Dokter, Dokter Spesialis Mata

Program Pembelajaran

Pelatihan

Cakupan & Mekanisme

|

Metode Pembelajaran

Online

Level Pembelajaran

Menengah

Biaya

BERBAYAR

<p> Glaukoma merupakan penyebab kebutaan nomor dua di negara berkembang setelah katarak, dan secara global menduduki posisi yang sama. Kebutaan akibat glaukoma bersifat ireversibel, karena menyebabkan kerusakan permanen pada papil nervus optikus dan sel ganglion retina, yang mengakibatkan penyempitan lapang pandang hingga hilangnya penglihatan sepenuhnya. Kondisi ini sering disebut sebagai "si pencuri penglihatan" karena gejala awalnya yang tidak spesifik, sehingga banyak kasus terdeteksi pada tahap lanjut.</p><p> Menurut World Health Organization (WHO), glaukoma menyebabkan sekitar 3,2 juta kasus kebutaan dari total 39 juta kasus kebutaan global. Di Asia, yang menyumbang sekitar 50% kasus global, prevalensi POAG diproyeksikan meningkat dari 2,8% pada tahun 2024 menjadi 3,5% pada tahun 2060</p><p> Acara ini tidak hanya mendukung deteksi dini dan pencegahan kebutaan ireversibel di tingkat nasional dan lokal, tetapi juga mendorong kolaborasi antara institusi kesehatan, masyarakat, dan pemerintah untuk mengatasi disparitas akses layanan kesehatan mata, terutama di wilayah seperti Sumatera Utara yang memiliki prevalensi tinggi. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengurangan beban glaukoma secara berkelanjutan, sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) terkait kesehatan universal</p>